Apa Selanjutnya, Juve? (Bagian 1)

By Yulio, 3 March 2021

Artikel ini ditulis oleh Adrian Manole dan disadur oleh Yulio

Kita sedang menyaksikan momen bersejarah sekaligus lucu yakni para Juventini yang akhirnya mau mengakui bahwa mungkin saja kita tidak akan memenangkan Scudetto, mungkin tidak mampu mengalahkan Porto, dan mungkin bahkan tidak lolos Liga Champion. Siapa sangka bahwa masa kepemimpinan Sarri akan terasa sangat baik jika dibandingkan dengan kini, di bawah asuhan Pirlo. Ya, banyak di antara kita yang skeptis dengan pergantian pelatih di bulan Agustus lalu, tanpa waktu yang cukup untuk persiapan pra-musim, tanpa uang yang cukup untuk belanja pemain, dan dengan jadwal yang super sibuk. Tambahkan semua hal di atas dengan pelatih nihil pengalaman,  dan anda akan mendapatkan resep yang pas untuk mendatangkan malapetaka.

Secara keuangan, kondisi kita semakin memburuk, sebagaimana telah disebutkan dalam laporan terakhir, tapi agaknya hal tersebut kurang pantas untuk kita ributkan mengingat prestasi yang telah kita dapatkan selama 9 tahun terakhir dan nilai keuangan skuad kita saat ini (gaji besar, daftar skuad yang cukup gemuk, dengan banyak pemain dipinjamkan atau dibiarkan pergi dengan gratis hanya untuk menekan kerugian). Kesimpulannya cukup sederhana, kita pernah punya uang (kita masih punya sebenarnya), hanya kita gagal menggunakannya dengan bijak. Banyak kesalahan-kesalahan besar yang terjadi dalam penanganan skuad beberapa tahun terakhir hingga akhirnya kini kita tidak hanya harus berada di tengah-tengah pandemi, tapi juga di tengah kubangan kesalahan.

Sepak bola kita kacau, keuangan kita mengkhawatirkan dan laporan keuangan terakhir menyebutkan penjualan pemain sebagai kemungkinan jalan keluarnya. Agak aneh bagi sebuah klub besar mengakui bahwa mereka mungkin akan terpaksa menjual pemainnya, kan? Lebih lagi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjual pemain. Berapa kira-kira harga Bernardeschi, Ramsey dan Douglas Costa (ya, dia akan kembali)?

Apa selanjutnya?

Perubahan sangatlah dibutuhkan dan walau kita sedang berada di masa-masa yang kurang jelas, mungkin saja akan ada perubahan-perubahan yang menarik.

  • Direktur

Paratici. Kecuali dia sendiri yang memilih untuk keluar, saya rasa Juve akan tetap menggunakan jasanya. Fabio melakukan hal yang baik musim panas lalu, mendatangkan pemain-pemain penting (McKennie, Morata, Kululsevski, Arthur, Chiesa) dan membuang pemain-pemain yang tidak berguna (Higuain, Matuidi, Douglas Costa, Rugani, De Sciglio). Secara keuangan, transaksi yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi pandemi, tidak terlalu menguntungkan, tapi secara teknis kita memulai musim dengan skuad yang lebih baik. Juga, penunjukan Pirlo bukanlah ide Paratici (itu merupakan ide Agneli), karena dia sebenarnya mau saja tetap dengan Sarri, jadi saya rasa Paratici berada di zona yang aman. Setidaknya sejauh ini.

  • Pelatih

Pirlo mau tidak mau sedang berada di zona merah. Lewat 35 pertandingan (di seluruh kompetisi) dan kita masih berada jauh dari kata progres. Ini bukanlah soal gagal memenangkan Scudetto dan keluar dari Liga Champion, ini soal kita yang bermain dengan sangat buruk. Situs ini, melalui banyak pengguna/kontributornya, telah sangat kritis dengan kinerja Pirlo dan kita bahkan telah mengobrolkannya selama berbulan-bulan, tidak seperti media mainstream, yang baru-baru saja menyampaikan bahwa Pirlo banyak menggunakan pemain di luar posisi terbaiknya. Tapi, seberapa besar kemungkinan Pirlo dipecat (saat ini atau nanti di musim panas)?

Sarri dipecat walau memenangkan Scudetto, jadi jika kita konsisten dengan cara pendekatan kita, maka tidak ada alasan untuk tidak memecat Pirlo saat ini juga atau nanti di akhir musim atas posisi 3, 4 atau posisi akhir lebih rendah lagi. TAPI, Sarri merupakan pilihan Paratici, Pirlo adalah pilihan Agnelli. Apakah Agnelli mau mengakui bahwa ia telah salah? Apakah Andrea A. mau berpisah dengan temannya Andrea P.? Patut kita ikuti perkembangannya.

Siapa yang seharusnya/bisa menggantikan Pirlo? Menemukan pelatih yang tepat untuk Juve tidaklah semudah yang orang kira. Bahkan jika semua pelatih di dunia memungkinkan untuk didatangkan, masih akan sulit memilih nama yang pas.

Pertama, Juventus hanya memiliki 1 pelatih non-Italia dalam 45 tahun terakhir dan namanya adalah Didier Deschamps, seorang mantan pemain dan pemenang Liga Champion bersama Juve. Dibanding Bayern Munich, Real Madrid dan Barcelona, Juventus adalah klub yang lebih memegang tradisi, sebuah klub yang dipegang satu keluarga saja sejak sekian lama. Coba pikirkan bahwa hampir tiap tahun dalam 60 tahun terakhir atau bahkan lebih, Juventus selalu memainkan pertandingan persahabatan di Villar Perosa, sebuah desa di luar kota Turin, hanya untuk menghormati keluarga Agnelli dan peninggalannya.

Dengan kata lain, pelatih Juventus haruslah orang yang terbiasa pada apa arti Agnelli pada Juventus dan apa arti Juventus pada Italia. Untuk seorang pemain yang tidak berkebangsaan Italia atau pemain yang tidak pernah bermain untuk Juve, ini mungkin saja akan terasa aneh dan dia akan kesulitan memahami hal tersebut.

Kedua, Serie A adalah kejuaraan yang sangat berbeda dengan lainnya. Sangat menonjolkan taktik dan fisik, jadi pelatih harus sadar bahwa perjalanan ke Verona atau Atalanta akan lebih sulit daripada apa yang para bandar judi sampaikan. Anda cukup harus tahu cara memenangkan pertandingan. Sekali lagi, orang Italia dan pemain yang pernah bermain di Serie A memiliki keunggulan. Hanya 3 pelatih non-Itali yang memenangkan Serie A dalam 30 tahun terakhir, dan 2 dari 3 tersebut adalah Jose Mourinho (Inter) dan Sven-Goran Eriksson (Lazio).

Ketiga, Lo Stile Juve. Pelatih Juventus haruslah orang yang berkelas. Dia harus berkelakuan, bergaya dan berbicara dengan cara yang elegan. Dia harus mampu menjadi titik acuan, karena foto dan kutipannya akan dimuat dalam semua surat kabar setiap akhir pertandingan. Itulah kenapa memiliki seorang perokok berat dalam balutan jaket tracksuit sebagai pelatih utama merupakan hal yang aneh musim lalu. Dan itu juga kenapa saya cukup sulit jika harus membayangkan Klopp, misalnya, menjadi pelatih kita.

Oleh karena itu, saya tidak benar-benar bisa menemukan nama-nama yang pas. Tambahkan kondisi keuangan, maka memilih pelatih baru akan menjadi tugas yang semakin sulit nantinya. Kenyataan yang susah diterima adalah memang tidak banyak pelatih Italia yang cocok. Betapapun saya sangat mengapresiasi Allegri, dia hanya akan seperti sup yang dihangatkan ulang untuk projek yang panjang (tapi saya mau saja menunjuknya sebagai pelatih sementara untuk menggantikan Pirlo saat ini). Carletto Ancelotti akan menjadi pilihan yang bagus, karena pendekatannya yang pragmatis akan cocok dengan Juve, tapi, dia juga pernah menjadi pelatih kita dan tidak bisa dibilang dicintai di Turin. Karena orang Italia tidak ada yang menjanjikan, kita harus melihat pada pelatih non-Itali yang memiliki pengalaman di Serie A.

TGP mengusulkan Diego Simeone sebagai kandidat yang memungkinkan. Dan sejujurnya saya tidak bisa menemukan nama lain dengan kualifikasi yang lebih baik. Setelah melakukan perjudian melalui penunjukan Sarri dan Pirlo, saya rasa kita harus melihat pada sosok yang sudah mapan dan dominan, bahkan jika itu berarti harus bermain dengan orientasi yang lebih bertahan.

Simeone bukanlah orang Italia, tapi ia memainkan tahun-tahun terbaiknya sebagai pemain bersama Lazio dan Inter di Italia. Simeone adalah seorang ahli taktik dan sepak bola bertahan, yang merupakan aset penting untuk memenangkan Serie A. Sepak bolanya Simeone didasarkan pada usaha. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah usaha tidak dapat dinego (effort is non-negotiable). Simeone bermain untuk menang dan capaiannya bersama Atletico Madrid tidak bisa berbohong. Simeone adalah orang yang karismatik dan penuh inspirasi pada pemain-pemainnya. Mengingat skuad kita sekarang, saya kira Colo adalah pilihan yang tepat.

TAPI.. menurut berbagai sumber ia adalah pelatih dengan bayaran termahal di dunia (gaji kotor 32 juta di Atletico Madrid). Apakah kita mau segitunya berkorban untuk mendatangkan Simeone?

Zidane mungkin bisa menjadi nama lainnya. Tapi saya ragu ia bisa cocok dengan skuad kita sekarang. Kesuksesannya di Real Madrid dibangun melalui kumpulan pemain-pemain yang luar biasa. Ronaldo memiliki Kroos dan Modric di belakangnya untuk mengiriminya umpan-umpan ciamik, sementara kita memiliki Benrancur dan Rabiot. Namun justru pemain-pemain inilah yang akan lebih cocok dengan ide yang ditawarkan Cholo Simeone.

Kesimpulan singkat. Menemukan pelatih mungkin bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimana menurut kalian tentang topik ini? Haruskah kita memberikan waktu lebih untuk Pirlo karena sedikitnya opsi yang ada?

Bersambung, kita akan melihat lebih dekat pada skuad yang kita miliki sekarang, bagian demi bagian.